
Wetland atau lahan basah???
apa ini??(waktu belum belajar mata kuliah ekolaba)
Ternyata pada semester 2 ini saya mempelajari juga yang namanya mata kuliah ekolaba yang banyak mempelajari tentang lahan basah
Sewaktu dapat tugas dari pak Kris (dosen ekolaba saya) yaitu survey kesuatu daerah lahan basah yang belum kami ketahui daerahnya dimana, kebetulan kami hanya diberi koordinatnya saja yaitu Secara geografis terletak di 30 23’55,7” Lintang Selatan dan 1140 49’32,5” Bujur Timur.,
Sejak saat itu mulailah saya mencari letak daerah tersebut dengan menggunakan google earth, ternyata daerah tersebut tidak jauh dari kampus kami yang berada dikota Banjarbaru yaitu desa Tungkaran kec.Martapura.
Dari sini berangkatlah kami(mahasiswa biologi) menuju tempat tujuan, setelah beberapa waktu mencari daerah tersebut akhirnya dapatlah kami kelokasi yang dituju, dalam hati bicara “wah ini ya nama nya lahan basah??”, maklum kurang pengetahuan dalam hal ini.
Menurut pelajaran yang sudah saya dapat lahan basah adalah daerah rawa, payau, lahan gambut, dan perairan. Daerah-daerah tersebut bisa terjadi karena alami atau buatan. Sifat airnya tetap atau sementara.Sedangkan daerah yang berair tawar, payau, atau asin, termasuk wilayah perairan laut yang kedalamannya tidak lebih dari 6 meter pada waktu air surut, merupakan daerah lahan basah juga.Hasil definisi tersebut merupakan hasil pertemuan tingkat dunia yang membahas pentingnya lahan basah. Pertemuan itu dilaksanakan di Kota Ramsar, Iran, pada 2 Februari 1971. Sejak itu, tanggal tersebut dijadikan hari lahan basah dunia.
Desa Tungkaran yang berada di kecamatan Martapura merupakan daerah lahan basah yang lumayan cukup luas, bahkan hampir sebagian besar daerah tersebut merupakan daerah rawa, lahan basah didaerah ini sangat banyak ditumbuhi tanaman seperti kelakai, kyambang, eceng gondok, purun tikus, teratai dan tanaman liar lainnya,disekitar pinggiran jalan raya banyak warga yang memancing ikan, ternyata didaerah yang penuh tanaman enceng gondok ini banyak juga terdapat ikan ikan air tawar seperti ikan haruan dan papuyu (jenis ikan dalam bahasa banjar). Menurut cerita seorang warga setempat disana juga pernah terdapat buaya,mungkin sampai sekarang pun masih ada tetapi buaya tersebut hidup didaerah yang jauh akan pemukiman penduduk agar habitatnya tidak terganggu.
Eceng gondok atau enceng gondok (Latin:Eichhornia crassipes) adalah salah satu jenis tumbuhan air mengapung. Selain dikenal dengan nama eceng gondok, di beberapa daerah di Indonesia, eceng gondok mempunyai nama lain seperti di daerah Palembang dikenal dengan nama Kelipuk, di Lampung dikenal dengan nama Ringgak, di Dayak dikenal dengan nama Ilung-ilung, di Manado dikenal dengan nama Tumpe. Eceng gondok pertama kali ditemukan secara tidak sengaja oleh seorang ilmuan bernama Carl Friedrich Philipp von Martius, seorang ahli botani berkebangsaan Jerman pada tahun 1824 ketika sedang melakukan ekspedisi di Sungai Amazon Brasil. Eceng gondok memiliki kecepatan tumbuh yang tinggi sehingga tumbuhan ini dianggap sebagai gulma yang dapat merusak lingkungan perairan. Eceng gondok dengan mudah menyebar melalui saluran air ke badan air lainnya. Walaupun eceng gondok dianggap sebagai gulma di perairan, tetapi sebenarnya ia berperan dalam menangkap polutan logam berat.
Teratai (Nymphaea) adalah nama genus untuk tanaman air dari suku Nymphaeaceae. Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai water-lily atau waterlily. Pada zaman dulu, orang memang sering mencampuradukkan antara tanaman genus Nelumbo seperti seroja dengan genus Nymphaea (teratai). Pada Nelumbo, bunga terdapat di atas permukaan air (tidak mengapung), kelopak bersemu merah (teratai berwarna putih hingga kuning), daun berbentuk lingkaran penuh dan rimpangnya biasa dikonsumsi.
Tanaman tumbuh di permukaan air yang tenang. Bunga dan daun terdapat di permukaan air, keluar dari tangkai yang berasal dari rizoma yang berada di dalam lumpur pada dasar kolam, sungai atau rawa. Tangkai terdapat di tengah-tengah daun. Daun berbentuk bundar atau bentuk oval yang lebar yang terpotong pada jari-jari menuju ke tangkai. Permukaan daun tidak mengandung lapisan lilin sehingga air yang jatuh ke permukaan daun tidak membentuk butiran air.
Bunga terdapat pada tangkai yang merupakan perpanjangan dari rimpang. Diameter bunga antara 5-10 cm.
Teratai terdiri dari sekitar 50 spesies yang tersebar dari wilayah tropis hingga daerah subtropis seluruh dunia. Teratai yang tumbuh di daerah tropis berasal dari Mesir.
Ikan gabus adalah sejenis ikan buas yang hidup di air tawar. Ikan ini dikenal dengan banyak nama di pelbagai daerah: aruan, haruan (Mly.,Bjn), kocolan (Btw.), bogo (Sd.), bayong, bogo, licingan (Bms.), kutuk (Jw.), dan lain-lain. Ikan darat yang cukup besar, dapat tumbuh hingga mencapai panjang 1 m. Berkepala besar agak gepeng mirip kepala ular (sehingga dinamai snakehead), dengan sisik-sisik besar di atas kepala. Tubuh bulat gilig memanjang, seperti peluru kendali. Sirip punggung memanjang dan sirip ekor membulat di ujungnya. Ikan gabus biasa didapati di danau, rawa, sungai, dan saluran-saluran air hingga ke sawah-sawah. Ikan ini memangsa aneka ikan kecil-kecil, serangga, dan berbagai hewan air lain termasuk berudu dan kodok
Diketahui bahwa ikan ini sangat kaya akan albumin, salah satu jenis protein penting. Albumin diperlukan tubuh manusia setiap hari, terutama dalam proses penyembuhan luka-luka. Pemberian daging ikan gabus atau ekstrak proteinnya telah dicobakan untuk meningkatkan kadar albumin dalam darah dan membantu penyembuhan beberapa penyakit.
Betok adalah nama sejenis ikan yang umumnya hidup liar di perairan tawar. Ikan ini juga dikenal dengan beberapa nama lain seperti bethok atau bethik (Jw.), puyu (Mly.) atau pepuyu (bahasa Banjar). Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai climbing gouramy atau climbing perch, merujuk pada kemampuannya memanjat ke daratan.
Betok umumnya ditemukan di rawa-rawa, sawah, sungai kecil dan parit-parit, juga pada kolam-kolam yang mendapatkan air banjir atau berhubungan dengan saluran air terbuka.
Ikan ini memangsa aneka serangga dan hewan-hewan air yang berukuran kecil. Betok jarang dipelihara orang, dan lebih sering ditangkap sebagai ikan liar. Masyarakat Banjar memiliki menu khas dari ikan betok (pepuyu dalam bahasa setempat). Pepuyu bakar terkenal sebagai masakan yang enak dari daerah Banjarmasin. Dikenal pula wadi pepuyu, ikan betok yang dibuang sisik, jerohan, dan insangnya dan difermentasi dengan bantuan garam dalam wadah beling. Wadi pepuyu dimasak sesuai selera, digoreng atau disayur.
Desa Tungkaran yang berada pada koordinat 30 23’55,7” Lintang Selatan dan 1140 49’32,5” Bujur Timur ini sepertinya belum dikelola dengan baik karena sejauh mata memandang hanya tanaman enceng godok saja yang terhampar luas, ada sebagian kecil warga yang menanam padi tetapi hanya dalam jumlah kecil saja selain itu dipinggiran jalan yang saya lewati banyak tumpukan tumpukan sampah yang membuat polusi daerah sekitar, seandainya wilayah yang sudah berpenghuni in dikelola dengan baik mungkin akan meningkatkan pendapatan warga setempat, selain itu pemerintah juga harus memperhatikan daerah ini agar daerah Tungkaran yang indah ini tidak hanya menjadi lahan tidur saja.






duuuhhh,,,
BalasHapuspicnya baguuuuuuuuzzzzz bnr,,,,,
ngiler nah...hehe